“Muda dan Mengubah Dunia, Why Not?” (Part 2)

youthaction

Sesi ke-2 di Youth Talk ini ada presentasi dari kak Afu. Kalau kak Yosea menyajikan tentang self-motivation, maka kak Afu menyediakan dan mempromosikan ‘youth menu’ yang sangat menarik tentang:

1. What do we mean when we say ‘world problems’?
2. Does youth really matter? Why?
3. What actual difference could we make?

Tahukah kamu, masalah negara-negara di dunia ini sebenarnya mirip-mirip, lho. Masalah kemiskinan, korupsi, pendidikan, lingkungan, sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, tidak hanya ada di Indonesia saja ternyata, negara-negara lain juga memiliki masalah yang kurang lebih sama seperti itu. Untuk apa PBB membentuk organisasi-organisasi seperti UNICEF, UNESCO, WHO, dan FAO, yang tugasnya menyelesaikan masalah-masalah tersebut? Ya karena masalah-masalah tersebut merupakan masalah internasional, masalah dunia, masalah kita bersama. Kalau misalnya hanya Indonesia saja yang mengalaminya, maka seharusnya cukup negeri ini saja dong yang mengurusnya, dan untuk apa pula PBB mendirikan organisasi-organisasi tersebut. Nah, karena hal tersebut merupakan kepentingan dan perhatian dunia, maka kita harus melihat masalah itu dari sudut pandang global/internasional. Wah, menarik banget, nih. Lalu bagaimana caranya supaya kita dapat menyelesaikan masalah negeri kita yang ternyata juga merupakan masalah dunia? Yap, dan kak Afu pun memaparkannya dengan super kece, let’s check this out! 🙂

1. What makes a problem, a problem?

Sebenarnya, apa sih yang menyebabkan sebuah masalah itu adalah sebuah masalah? Atau dengan kata lain, bagaimana sesuatu itu disebut sebagai sebuah masalah? Kalau menurut saya, secara sederhana, sesuatu itu disebut masalah kalau ada dua hal yang mengalami kesenjangan dan salah satunya menjadi pembanding. Contoh konkritnya, si A mendapatkan gaji 1 juta per bulan, sedangkan si B mendapatkan 10 juta per bulan yang ternyata merupakan rata-rata gaji orang pada umumnya. Si A mendapatkan gaji yang berada di bawah rata-rata, dan ini bisa dibilang merupakan suatu masalah karena si A tersenjangkan dengan si B yang menjadi pembanding. Atau bisa dibilang timbul suatu gap antara si A dan si B. Lain lagi ceritanya kalau si A dan si B sama-sama mendapatkan gaji 1 juta per bulan, ini bukanlah suatu masalah karena tidak ada pihak yang menjadi pembandingnya. Kesimpulannya, sesuatu itu bukan dikatakan sebagai masalah lagi kalau sudah terjadi pemerataan (tidak ada pembanding dan kesenjangan). Kurang lebih begitulah ilustrasi sederhananya. Definisi tentang apa itu masalah, bisa bermacam-macam. Ini adalah hak dan gagasan individu masing-masing untuk mengartikannya.

Ok, back to the topic. Kak Afu menjawab (intinya) bahwa: It requires a solution. Masalah itu adalah sesuatu yang memerlukan solusi.

Food thought #1:

“The solution to our problems might wait for us, silently, in another side of the globe.”

Solusi masalah kita sesungguhnya mungkin sedang menunggu kita, diam-diam, di bagian belahan bumi yang lain. Lihatlah negara-negara yang sudah maju dan modern peradabannya. Ambil contoh: Amerika. Apakah Amerika dulunya pernah menjadi negara miskin? Ya. Apakah Amerika dulunya pernah mengalami krisis ekonomi? Tentu saja. Apakah Amerika dulunya pernah memiliki konflik di bidang sosial, politik, dan ekonomi? Itu sudah pasti. Lalu bagaimana bisa Amerika yang dulunya punya masalah yang bejibun, bisa move on dan move up dari keterpurukannya dan menjadi negara maju? Nah itu dia yang harus kita pelajari darinya. Secara tersirat, ‘Food thought #1’ ini intinya menyuruh kita untuk pergi ke luar ‘kandang’, traveling dan menjelajahi negara-negara lain, melihat, mengamati, dan belajar dari mereka tentang “bagaimana sih mereka bisa menyelesaikan masalahnya dan menjadi negara yang maju?” Nah, dan ‘kita’ di sini lebih dikhususkan kepada kaum muda, the youth.

2. Why youth? Do we really matter?

The number says: we, the 15-24 year-olds, are 43% of world’s population and 1/3 of Indonesia’s. Karena kita, kaum muda, merupakan kaum yang cukup besar, kuat, dan banyak jumlahnya. Then, there are 5 basic differences that distinguish between the youth and the others, those are:

1. Perspectives. Cara pandang kaum muda zaman sekarang itu berbeda dengan cara pandang orang zaman dahulu. Menurut penelitian, otak zaman dulu itu kemampuan utamanya lebih ke menyimpan memori. Sedangkan otak sekarang itu kemampuannya adalah analisis. Kalau otak zaman dulu yang lebih diunggulkan adalah menghapalkan nama gunung tertinggi di dunia, nama ibukota di suatu negara, atau nama pahlawan yang memenangkan suatu perang, maka otak zaman sekarang itu mengunggulkan kemampuan menganalisis, karena memori otak yang tentang hapalan sekarang sudah bisa dicari di google dengan sangat mudah. Kita bisa mencari nama gunung tertinggi di dunia hanya dengan sekali ‘klik’. Dan untuk zaman sekarang, yang sesungguhnya lebih dibutuhkan adalah kemampuan menganalisis, bukan sekedar pengetahuan hapalan.

2. Potentials. Sudah jelas, kamu muda itu potensinya sangat besar, terbuka lebar dan luas. Kaum muda adalah yang paling bisa belajar dan menemukan potensinya. Paling pas dan ideal lah potensinya kalau dibandingkan dengan orang dewasa.

3. Connectivity. Nah ini. Di era teknologi zaman sekarang yang serba ada, kita bisa terhubung dengan mudah dengan seluruh orang di dunia. Misalnya, untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai universitas untuk mengadakan suatu forum bersama, kita tidak perlu lagi mengirim surat manual seperti zaman dulu. Tinggal terhubung dengan media sosial di internet, informasi pun dapat tersampaikan dalam sekejap.

4. Optimism. Kaum muda zaman sekarang itu bebas dari doktrin, tidak seperti ketika zamannya Pak Soeharto dulu. Jadi kita punya optimisme yang tinggi bahwa kaum muda itu bebas, merdeka, dan jelas kesempatannya terbuka sangat luas untuk menyelesaikan masalah.

5. Idelism. Kaum muda itu masih sangat ideal. Kita bisa melihat kaum muda itu suka dan sering sekali membicarakan hal-hal berbau nasionalisme dan idealisme, entah disadari atau tidak. Ini merupakan hal yang wajar. Karena kaum muda itu masih bebas dari tanggung jawab lain yang kemungkinan bisa merusak idealisme yang sudah dibentuk dari awal. Misalnya kalau yang sudah berkeluarga, maka ia ada kewajiban dan tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. Nah karena memiliki kebebasan, maka kaum muda dikatakan menjadi yang paling pantas untuk menyerukan idealisme.

Food thought #2:

“The solution to our problems might be inside us, waiting to go out of our head.”

The world before: Limited. The world now: Unlimited!
Sadarlah, dunia kita di zaman sekarang itu sudah tidak terbatas, lho, tidak seperti zaman dulu. Seperti yang telah disebutkan di awal, teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat memudahkan kita untuk dapat terkoneksi dengan tempat mana pun di dunia ini, seolah-olah tidak ada sekat/batas yang menghalangi kita untuk bebas melalang-buana. Nah sekarang tinggal kitanya saja yang mau membuka sekat/batas yang ada di dalam pikiran kita atau tidak. Karena persepsi terhadap sesuatu apakah itu terbatas atau tidak, mungkin atau tidak mungkin, itu sesungguhnya tergantung bagaimana pola berpikir kita. Oleh karena itu mari kita “buka mata, buka telinga, buka pikiran, buka hati, tegakkan kepala, dan tegapkan badan” (kayak kaderisasi di ITB aja :p) untuk menghadapi ‘ketidakterbatasan’ dunia ini dan menemukan solusi atas masalah yang ada.
Ya,

“Solusi dari masalah kita bisa jadi sudah ada di dalam diri kita, tinggal menunggu untuk dikeluarkan dari pikiran kita saja.”

3. What does this all mean?

Dunia zaman sekarang itu seolah-olah sudah tidak ada batasnya lagi. Benar-benar terbuka dan kita bisa bebas melalang buana. Oleh karena itu, it’s time for youth 2.0! What is youth 2.0? Let’s broaden our mindset and horizon! 🙂 

1. Global citizenship. Kita adalah warga dunia. Mulai sekarang kita harus mengubah mindset bahwa kita bukanlah sekedar warga negara Indonesia. Karena kita ada di ranah dunia, ranah internasional, dan kita hidup di dalamnya, maka kita harus memposisikan diri sebagai warga dunia. Lihat suatu masalah lalu selesaikan dengan sudut pandang, cara, dan pemikiran global (internasional). Boundaries should not matter as much. Dan seperti yang telah disebutkan di awal, batasan itu bukanlah masalah, atau bahkan anggaplah batasan itu tidak ada.

2. Better leadership. Be bold to voice out ideas and inisiate movements. Beranilah menyeru-lantangkan ide-ide dan menginisiasi gerakan. Ini merupakan basic dari suatu leadership yang seharusnya kita miliki. Intinya adalah: BERANI!

3. Connectivity. Ciptakan konektivitas (networking) yang harus selalu ada dan saling terhubung untuk bisa mendapatkan apa yang kita harapkan. Manfaatkan hal ini dengan baik.

Food thought #3:

“The solution to our problem might never be discovered if we still have xenophobia and cowardice to talk leadership.”

Xenophobia adalah ketakutan akan hal asing, atau menganggap hal asing itu sesuatu yang ‘wow’. Jangan biarkan xenophobia tentang kepemimpinan menyerangmu kalau ingin dapat menemukan solusi dari suatu permasalahan. Karena solusi akan ditemukan ketika kita berani menyeru-lantangkan mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Jangan takut, beranilah, berteriaklah!

So, the conclusions are:

1. Travel. Embarrass yourself. Learn from it. Open yourself up to see potentials in other places. | Lakukanlah perjalanan, tantang dirimu, ambil pelajaran darinya. Bukalah dirimu untuk melihat potensi-potensi yang ada di tempat lain.
2. Embrace youthness. Bring bold ideas. Make mistakes. Being young means looking forward to the future. | Optimalkan masa mudamu, bawalah ide-ide hebat, jangan takut melakukan kesalahan, menjadi muda artinya fokus melihat ke masa depan.
3. Dare yourself to lead or take part in someone’s leadership. Because otherwise you are wasting precious time. | Tantang dan beranikan dirimu untuk memimpin atau mengambil peran dalam sebuah kepemimpinan terhadap orang lain. Karena kalau tidak, kamu sedang menyia-nyiakan waktu berhargamu.

So, “Let’s dare to speak up and tell the world!” 😀

Advertisements

“Muda dan Mengubah Dunia, Why Not?” (Part 1)

Hari pertama di minggu ini saya manfaatkan untuk datang ke Youth Talk yang diadakan oleh AIESEC Bandung. Ini merupakan salah satu rangkaian acara GYF (Global Youth Festival)nya AIESEC yang diadakan tiap tahun. Youth Talk yang bertagline “Speak up! And Tell The World” ini bertempat di ruang 9311 gedung Labtek 6 ITB dan merupakan acara GYF ke-2 kalinya yang pernah saya hadiri. Kali ini para speakernya sangat memotivasi, menginspirasi, dan kembali membakar semangat optimisme saya. Saya sungguh sangat bersyukur bisa hadir di acara ini untuk bisa men-sharenya kepada teman-teman pembaca. Dan berikut adalah resume tentang apa yang saya dapatkan di acara ini, semoga ini bisa menjadi bahan recharge jiwa dan bahan bakar semangat kita, supaya kita jadi lebih semangat buat HIDUP. 🙂

Yang menjadi the speakers kece di sini ada kak Yosea Kurnianto (@yosea_kurnianto), kak Andhyta F. Utami (@afutami), dan kak Nyoman Anjani (@nyomanjanii). Dan FYI, in brief, mereka itu adalah para leader kece di bidangnya masing-masing. Sebelum acara dimulai, diputarkan beberapa video tentang AIESEC. Kalau tidak salah, judul-judul videonya ada: “Why we do what we do”, “Introducing Gen 2015 – own it, believe it, make it happen!”, dan “how the contribution will be”, yang intinya kurang lebih mempromosikan AIESEC dan meyakinkan kepada audience bahwa mengikuti program exchange ini sangatlah bermanfaat. Dan jujur, ada video yang menyentuh hati saya *tsah* dan membuat saya mbrambang (berkaca-kaca) dan rada merinding ketika menontonnya, yaitu ketika ditontonkan berbagai kegiatan kece yang dilakukan oleh para EP (exchange participant) ketika melakukan exchange di berbagai negara serta ditampilkan betapa serunya pengalaman mereka di sana. Dan hal ini membuat hati saya semakin menggebu dan membulatkan tekad untuk bisa get out of this ‘comfortable’ country dan bisa melakukan juga seperti apa yang mereka lakukan. Itu adalah cita-cita dan passion saya sejak kecil, jadi mungkin inilah yang menyebabkan saya mengapa bisa mbrambang dan rada merinding ketika ditontonkan video ini. Hehe.

Youth Talk AIESEC Bandung

The first speaker adalah kak Yosea. Presentasi beliau buka dengan mengutip sebuah quote kece dari Simon de Beauvoir bahwa:

“Kehidupan dijalani dengan mengabadikan dan melampaui diri. Jika yang dilakukan hanyalah mempertahankan diri, kehidupan adalah sekedar tidak mati.”

Dari quote tersebut dapat kita maknai lebih dalam bahwa hidup ini pasti bakal terus berlanjut dan berjalan, dan kita pun mau tidak mau juga harus bisa ikut berubah dan mengabadikan diri sesuai dengan kerberlanjutan hidup ini. Dan lebih bagus lagi kalau kita bisa berubah melampaui dan memenangkan keberlanjutan hidup itu sendiri. Nah, kalau kita tidak mau ikut berubah, alias hanya mempertahankan diri saja, maka kita tidak akan mendapatkan arti dari hidup. Kita hanya ‘sekedar tidak mati’, alias ‘sekedar hidup’, alias ‘mbebek’ tanpa mengerti tentang apa itu hidup. Kenalilah diri sendiri, maka kita akan lebih jelas dan terarah dalam menjalani hidup ini. Kalau kita sudah mengenal diri sendiri, maka kita dapat membuat visi (tujuan) hidup yang jelas dan terhindar dari ‘kegalauan’. Dan kalau sudah begini, maka hidup akan lebih terasa tenangnya.

Lalu kak Yosea melanjutkan presentasinya tentang “Problem is a ‘Friend’”. Ceritanya, Indonesia has much problems, what might be your concern? Kalau menurut ‘The Compass System’, ada 4 masalah pokok yang bisa disingkat dengan 4 huruf depan arah mata angin, yaitu tentang: (N)ature, (E)conomy, (S)ocial, dan (W)ell being. Nah dari 4 masalah pokok yang kompleks ini, lalu muncul sebuah solusi klasik dan mendasar, bahwa:

Change begins with me. Perubahan dimulai dari diri sendiri.

Continue reading